Selasa, 20 Mei 2014

Chapter One

"Detik demi detik terus bergulir
Menit demi menit menerjang tanpa peduli
Waktunya semakin dekat

Usaha demi usaha sudah dikerahkan
Mengapa hanya karena satu emosi kecilku
Kau harus sebegitu marah padaku?

Aku terluka

Setiap kata dari bibirmu bagaikan pisau tajam di telingaku
Pisau yang menusuk hati mungil dengan sadis.
Aku berjuang, aku selalu berjuang.
Aku menyadari kesalahan lampauku
Oleh karena itu aku berusaha dan berusaha

Namun nampaknya di mata mu
Aku tetaplah tak berguna
Aku hanya beban hidupmu
Aku hanya sebuah anugerah terburuk dari Yang Maha Kuasa

Dia segalanya bagiku
Namun nampaknya aku tak pernah pantas
Aku bukanlah sesuatu yang dia inginkan
Aku hanya ibaratkan salib pemberat baginya

Walau begitu
sekalipun dalam hidupku 
tak pernah kusesali mempunyai engkau
Bagiku kau segalanya
Kau kehidupanku

Aku hanya berharap
Aku hanya memohon dalam hati
Aku hanya ingin berbicara
Bahwa aku tak seburuk seperti yang kau sangka

Seandainya aku bisa memohon pada-Nya
tentu kumohon Dia beri seseorang yang jauh lebih baik dariku
Akupun sedih dengan diriku
Yang tak pernah bisa membuatnya tersenyum

Aku... Aku... 
Aku sudah melakukan semua yang kubisa
Tapi nampaknya aku terlalu buruk dimatamu
Aku seakan sudah tak ada harapan lagi

Aku mencintaimu
sangat mencintaimu
Dalam setiap bulir doa
Aku memohon pada Yang Berkuasa
agar aku pantas dimatamu

Aku tau aku tak berguna
Aku tau aku bodoh dan tak sesuai harapanmu

Dalam setiap amarahmu
Aku selalu mencoba mengerti 
Apa yang kau inginkan dariku
Tapi hatiku tidak bisa
Otakku selalu berusaha mencerna setiap kata
Namun hatiku berteriak tak tahan
Hatiku menjerit

Tak bisakah semuanya diperbaiki?
Tak bisakah kau membuka hatimu padaku?
Tak bisakah kita saling berbicara?


Biarlah ini menjadi kisahku sendiri
Yang kututup rapat rapat dalam hati
Hati yang selalu berteriak
Yang hanya bisa dilampiaskan dengan isakan tertahan

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar